Konsep Pendidikan Menurut Syed M. Naquib Al-Attas

Posted: 14 Juni 2010 in Islamic

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) – dengan berbagai coraknya- berorientasi memberikan bekal kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan Islam selalu diperbaharui konsepnya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati, tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.

Dalam kenyataannya, di kalangan dunia Islam telah muncul berbagai isu mengenai krisis pendidikan dan problem lain yang amat mendesak untuk dipecahkan Inilah yang menuntut agar selalu dilakukan pembaharuan (modernisasi) dalam hal pendidikan dan segala hal yang terkait dengan kehidupan umat Islam.

Dewasa  ini,  pendidikan  Islam  di  seluruh  dunia  sedang  menghadapi tantangan yang sangat berat seiring dengan datangnya era globalisasi dan informasi. Tidak  dapat  dipungkiri  betapa  pengaruh  Barat  pada  dunia  Islam  sangat mempengaruhi  alur  perjalanan  kaum  muslim  terutama  dalam  bidang  pendidikan.

Syed Muhammad Naquib Al-Attas, termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya

BAB II

PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI SYED M. NAQUIB AL-ATTAS

Nama lengkap Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas. Beliau dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Pada waktu itu Indonesia berada dibawah kolonialisme Belanda. Bila dilihat dari garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntung secara inheren. Sebab dari kedua belah pihak,baik pihak ayah maupun pihak ibu merupakan orang-orang yang berdarah biru. Ibunya yang asli Bogor itu masih keturunan bangsawan Sunda. Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan di Johor. Bahkan mendapat gelar Sayyed yang dalam tradisi Islam orang yang mendapat gelar tersebut merupakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad.

Pada usia lima tahun, Syed Muhammad Naquib dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Hang (1936-1941). Pada masa pendidikan Jepang, dia kembali ke Jawa  untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Al-‘Urwatu Al-Wutsqa, Sukabumi (1941-1945). Setelah Perang Dunia II pada 1946, Syed Muhammad Naquib kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahra School kemudian di English College (1946-1951).

Setelah itu, beliau mengikuti pendidikan militer, pertama di Erron Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Millitary Academy, Sandhurst, Inggris. Selain mengikuti  pendidikan militer, Al-Attas juga sering pergi ke Negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Setelah tamat dai Sandhurst, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor resimen tentara kerajaan Malaya. Al-Attas mendapatkan gelar M.A. pada 1962 dari Universitas McGill, Montreal. Sedangkan gelar Ph.D. diperoleh dari Universitas London 1965.

B. PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN

Syed  Muhammad  Naquib  al-Attas  adalah  salah  seorang  cendekiawan  dan filsuf muslim dari Malaysia yang menguasai teologi, filsafat, metafisika, sejarah dan literatur. Kepakarannya dalam bidang-bidang tersebut tidak diragukan lagi dan sudah diakui  oleh  berbagai  kalangan  intelektual.  Berikut  merupakan  sebagian  dari pemikiran-pemikiran yang beliau gagas.

1. Makna dan Tujuan Pendidikan

Makna dan tujuan pendidikan adalah dua unsur yang saling berkaitan. Secara umum ada dua pandangan teoritis mengenai tujuan pendidikan, masing-masing dengan tingkat keragamannya tersendiri. Pandangan teoritis yang pertama berorientasi kemayarakatan, yaitu pandangan yang menganggap pendidikan sebagai sarana utama dalam menciptakan rakyat yang baik, baik untuk system pemerintahan demokratis, oligarkis maupun monarkis. Pandangan teoritis yang kedua lebih berorientasi kepada individu, yang lebih memfokuskan diri pada kebutuhan, daya tampung, dan minat pelajar.

Ada  tiga  istilah  yang  dianggap  memiliki  arti  yang  dekat  dan  tepat  dengan makna pendidikan. Ketiga istilah itu adalah tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib yang masing-masing  memiliki  karakteristik  makna  disamping  mempunyai  kesesuaian  dalam pengertian pendidikan Islam.

  • Makna tarbiyah dalam rangka pendidikan Islam

Menurut Najib Khalid  al-Amir  ada  lima  sisi  dari  pengertian  tarbiyah  secara berkesinambungan  yang  satu  sama  lain  berbeda  sesuai  dengan  pembentukannya yaitu:

-      Tarbiyah  adalah menyampaikan  sesuatu  untuk mencapai  kesempurnaan. Bentuk  penyampaian  satu  dengan  yang  lain  berbeda  sesuai  dengan  cara pembentukannya.

-      Tarbiyah adalah menentukan tujuan melalui persiapan sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan.

-      Tarbiyah adalah sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik (murabbi).

-      Tarbiyah  dilakukan  secara  berkesinambungan.  Artinya  tahapan-tahapan sejalan  dengan  kehidupan,  tidak  berhenti  pada  batas  tertentu,  terhitung dari buaian sampai liang lahat.

-      Tarbiyah  adalah  tujuan  terpenting dalam kehidupan baik  secara  individu maupun keseluruhan.

  • Makna ta’lim dalam rangka pendidikan Islam

Adapun  al  ta’lim  secara  etimologis  berasal  dari  kata  kerja  “allama”  yang berarti  “mengajar”.  Jadi, makna  ta’lim  dapat  diartikan  “pengajaran”  seperti  dalam bahasa  Arab  dinyatakan  tarbiyah  wa  ta’lim  berarti  “  pendidikan  dan  pengajaran”, sedangkan pendidikan Islam dalam bahasa Arabnya “al tarbiyah al Islamiyah”. Kata ta’lim  dengan  kata  kerja  “allama”  juga  sudah  digunakan  pada  zaman  Nabi  baik dalam  al-Qur’an maupun Hadits  serta  pemakaian  sehari-hari  pada masa  dulu  lebih sering  digunakan  daripada  tarbiyah.  Kata  “allama”  memberi  pengertian  sekadar memberi  tahu  atau  memberi  pengetahuan,  tidak  mengandung  arti  pembinaan kepribadian,  karena  sedikit  sekali  kemungkinan  ke  arah  pembentukan  kepribadian yang disebabkan pemberian pengetahuan.

  • Makna ta’dib dalam rangka pendidikan Islam

Adapun  ta’dib  secara bahasa merupakan bentuk masdar dari kata “addaba” yang  berarti  memberi  adab,  mendidik  (Yunus,  1972:  37).  Adab  dalam  kehidupan sering  diartikan  sopan  santun  yang  mencerminkan  kepribadian.  Istilah  ini  dalam kaitan  dengan  arti  pendidikan  Islam  telah  dikemukakan  oleh  Syed  Muhammad Naquib  al  Attas  yang  menyatakan  bahwa  istilah  ta’dib  merupakan  istilah  yang dianggap  tepat  untuk  menunjuk  arti  pendidikan  Islam.  Pengertian  ini  didasarkan bahwa arti pendidikan adalah meresapkan dan menanamkan adab pada manusia.

Dalam bukunya yang lain, beliau menyebutkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk menghasilkan manusia-manusia yang baik. Orang yang baik disini adalah adab dalam pengertian yang menyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya.” Maka, orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefinisikan Al-Attas sebagai orang yang beradab. Dalam pengertian yang asli adab adalah mengundang ke suatu perjamuan. Perjamuan menyiratkan bahwa tuan rumah adalah seorang yang mulia dan terhormat dan banyak orang yang hadir. Ini juga berarti bahwa orang-orang yang hadir itu adalah mereka yang dalam penilaian tuan rumah patut mendapat atas undangan itu. Berdasarkan ini maka adab berarti juga disiplin terhadap pikiran dan jiwa, untuk menunjukkan tindakan yang betul melawan yang keliru, yang benar melawan yang salah, agar terluput dari noda dan cela.

Pendidikan menurut Al-Attas adalah “penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang – ini diebut ta’dib” al-Qur’an menegaskan bahwa contoh ideal bagi orang yang beradab adalah Nabi Muhammad SAW. Yang oleh kebanyakan sarjana Muslim disebut sebagai Manusia Sempurna atau Manusia Universal.

Menurut Al-Attas, jika benar-benar dipahami dan dijelaskan dengan baik, sebagaimana telah dijelaskan diatas, konsep ta’adib adalah konsep paling tepat untuk pendidikan Islam, bukannya tarbiyah ataupun ta’lim. Dia mengatakan, “Struktur konsep ta’adib sudah mencakup unsur-unsur ilmu, instruksi dan pembinaan yang baik sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah-ta’lim-ta’dib.”

2. Kurikulum Dan Metode Pendidikan

Metode  merupakan  sarana  yang  bermakna  dan  faktor  yang  akan mengefektifkan  pelaksanaan  pendidikan.  Demikian  pentingnya  metode dalam pendidikan  Islam,  telah menempatkan  faktor  ini  sebagai  faktor yang esensial dalam pelaksanaan  pendidikan.

  • Persiapan Spiritual

Abu Sa’id Al-Kharraz , seorang sufi terkenal abad ke-9 M, mengatakan bahwa salah satu prinsip etika adalah keikhlasan, disamping kebenaran dan kesabaran. Disamping itu Al-Attas menekankan kejujuran dan keikhlasan dalam mencari ilmu dan mengajarkan ilmu.

  • Ketergantungan Pada Otoritas dan Peranan Guru

Al-Attas mengatakan bahwa otoritas tertinggi adalah al-Qur’an dan Nabi, yang diteruskan oleh para sahabat dan para ilmuwan laki-laki dan perempuan yang mengikuti sunahnya. Peranan guru dianggap sangat penting. Peserta didik diharapkan tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru.

  • Peranan Bahasa

Al-Attas selalu menganalisis dan menjelaskan konsep dan istilah kunci, serta menekankan pemakaian bahasa secara benar sehingga makna yang benar mengenai istilah dan komsep kunci yang termuat didalamnya tifak berubah atau dikacaukan. Mungkin Al-Attas adalah pemikir pertama di kalangan Muslim yang menyatakan bahwa sarana utama Islamisasi bangsa Arab pra-Islamadalah melalui Islamisasi bahasa Arab itu sendiri. Demikian pula de-Islamisasi atau sekulerisasi pemikiran Muslim juga berlangsung secara efektif melalui aspek linguistik.

  • Metode Tauhid

Metode tauhid ini menyelesaikan problematika dikotomi yang salah, seperti antara aspek objektif dan subjektif ilmu pengetahuan. Sayangnya apa yang dianggap objektif dianggap lebih nyata dan karena itu lebih valid daripada yang subjektif.

  • Pancaindra, Akal, dan Intuisi

Al-Attas membenarkan adanya kemampuan psikologis, yang dalam konsepsi Islam mengenai jiwa dan proses kognitif, kemampuan tersebu diletakkan sesuai dengan peranannya yang tepat. Sebab Islam mengakui kebenaran pelbagai saluran ilmu pengetahuan , seperti pancaindra, berita yang benar, akal sehat, dan intuisi yang digabung di dalam akidah.

  • Penggunaan Metafora dan Cerita

Ciri metode pendidikan A-Attas yang lain adalah penggunaan metafora dan cerita sebagai contoh atau perumpamaan, sebuah metode yang juga banyak digunakan dalam al-Qur’an dan hadis. Salah satu metafora yang sering digunakan adalah metafora papan penunjuk iklan (sign post).

Kajian Al-Attas mengenai muatan pendidikan Islam berangkat dari pandangan bahwa karena manusia itu bersifat dualistis, ilmu pengetahuan yang dapat memenuhi kebutuhannya dengan baik adalah yang memiliki dua aspek. Pertama, yang memenuhi kebutuhannya yang berdimensi permanen dan spiritual; dan kedua, yang memenuhi kebutuhan material dan emosional.

Ia juga secara tegas mengusulkan pentingnya pemahaman dan aplikasi yang benar mengenai fardu ain dan fardu kifayah. Penekannanya pada kategorisasi ini mungkin juga karena perhatiannya terhadap kewajiban manusia dalam menuntut ilmu dan mengembangkan adab.

Ilmu fardhu ’ain (ilmu-ilmu agama), yaitu

  • Kitab suci Al-Qur’an.
  • Sunnah.
  • Syari’at.
  • Teologi.
  • Metafisika.
  • Ilmu Bahasa (bahasa Arab).

Ilmu fardhu kifayah, yaitu

  • Ilmu Kemanusiaan
  • Ilmu Alam
  • Ilmu Terapan.
  • Ilmu Teknologi.
  • Perbandingan Agama.
  • Kebudayaan Barat.
  • Ilmu Linguistik: Bahasa Islam, dan
  • Sejarah Islam.

3. Murid dan Guru Dalam Pandangan Syed M. Naquib Al-Attas

Peserta didik disarankan untuk tidak tergesa-gesa belajar kepada sembarang guru, sebaliknya peserta didik harus meluangkan waktu untuk mencari siapakah guru terbaik dalam bidang yang ia gemari.

Adab guru dan peserta didik dalam filsafat pendidikan Al-Attas tampaknya diilhami oleh prinsip yang dipertahankan para ilmuwan Terkenal, khususnya Al-Ghazali. Selain persiapan spiritual, guru dan peserta didik harus mengamalkan adab, yaitu mendisiplinkan pikiran dan jiwa. Peserta didik harus menghormati dan percaya kepada guru; harus sabar dengan kekurangan gurunya dan menempatkannya dalam perspektif yang wajar.

Peserta didik seharusnya tidak menyibukkan diri pada opini yang bermacam-macam. Sebaliknya, ia meguasai materi sebaik penguasaannya dalam praktik. Tingkat ilmu seseorang yang bisa dibanggakan adalah yang memuaskan guru. Gurupun seharusnya tidak menafikan nasihat yang datang dari peserta didik dan harus membiarkannya berproses sesuai dengan kemammpuannya. Guru juga harus menghargai kemampuan peserta didik  dan mengoreksinya dengan penuh rasa simpati.

C. ANALISIS

Setelah penulis mengupas biografi Syed Muhammad Naquib al-Attas dan menguraikan  gambaran  pendidikan  Islam, maka darisinilah penulis mencoba untuk memberikan analisis untuk sedikit memperjelas bagaimana konsep pendidikan dari Al-Attas itu sendiri.

Dari deskripsi di atas, dapat ketahui bahwa secara orientasi pendidikan Al-Attas adalah mengarah pada pendidikan yang bercorak moral religius yang tetap menjaga prinsip keseimbangan dan keterepaduan sistem. Hal tersebut terlihat dalam konsepsinya tentang Ta’dib (adab) yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Di situ dipaparkan bahwa setelah manusia dikenalkan akan posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, ia diharapakan dapat mengamalkan ilmunya dengan baik di masyarakat berdasarkan adab, etika dan ajaran agama. Dengan bahasa yang berbeda dapat dikatakan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi pertimbangan nilai-nilai dan ajaran agama.

Hal itu merupakan indikator bahwa pada dasarnya paradigma pendidikan yang ditawarkan Al-Attas lebih mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek kognitif (sensual–logis) dan psikomotorik (sensual-empiris). Hal ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islami, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islami, dikenal adanya aspek transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain kognitif, afektif dan psikomotorik.

Apabila ditelaah dengan cermat pula, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Al-Attas, tampak jelas bahwa dia berusaha menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu.

BAB III

PENUTUP

Berdasarkan pada deskripsi yang  telah dipaparkan diatas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan, yaitu penetapan  konsep yang  tepat untuk digunakan dalam pendidikan  Islam  sebagaimana didefinisikan, dalam hal  ini adalah ta’dib,  bukannya  tarbiyah  atau  ta’lim. Hal  ini  dikarenakan  dalam    ta’dib  itu sendiri sudah tercakup ketiga istilah tersebut.

Tujuan yang  ingin dicapai dalam pendidikan yang dimaksudkan al-Attas adalah  insan kamil atau manusia universal. Hal  ini merujuk pada pribadi Nabi saw, yang  merupakan  perwujudan  manusia  sempurna,  sedangkan  pendidikan diarahkan  pada  terwujudnya  potensi  dan  bawaan  manusia  sehingga  bisa  sedekat mungkin menyerupai Nabi saw.

Melihat  realita  dalam  dunia  pendidikan  dewasa  ini,  kiranya menuntut untuk mengubah konsep dasar pendidikan Islam yang selama ini digunakan dalam  pendidikan  Islam,  hal  ini  dikarenakan  sifat-sifat  konsep  tersebut  yang  tidak sesuai dengan konsep dasar pendidikan Islam sebagaimana yang dikehendaki.

DAFTAR PUSTAKA

Daud,Wan Mohd Nor Wan. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam. Mizan. Bandung : 2003.

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Islam dan Sekularisme. penerbit pustaka. Bandung : 1981.

Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam. Ciputat Pers. Jakarta: 2002.

Aly, Hery Noer. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999.

Al-Amir, Najib Khalid. Tarbiyah Rasulullah. Jakarta: Gema Insani Press. 1996.

Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 1992.

Komentar
  1. dwi mengatakan:

    gaya koyo pak dedi guru kae.
    komentar…

  2. dwi mengatakan:

    bagus bagus

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s